Pendidikan, Pengembangan Diri, Tak Berkategori
Agu30

Tips Mengajari Anak Penderita Autisme Agar Bisa Mengendalikan Diri

0 komentar

Memiliki anak menjadi dambaan bagi setiap pasangan yang telah melangsungkan pernikahan, apalagi jika dianugerahi anak yang sempurna, sehat dan tanpa cacat. Bersyukurlah bagi pasangan yang memperoleh anak dengan segala kelebihannya. Anak bisa menjadi sumber kebahagiaan, sumber semangat dan inspirasi ketika seorang ayah bekerja atau beraktivitas. Seperti itulah posisi anak karena merupakan buah cinta antara ibu dan ayahnya.

Namun, bisa saja Tuhan menguji kita dengan memberikan anak yang kurang sempurna. Katakanlah, terdapat cacat pada anggota tubuhnya, kurang sehat atau bisa juga memiliki keterbelakangan mental. Itu semua jangan menjadikan anda menjadi pribadi yang patah semangat dan putus saja. Mungkin Tuhan memiliki rencana indah di balik itu semua, bukankah Tuhan yang mengatur setiap apa yang ada di bumi ini? Termasuk dalam hal anak, bagaimanapun keadaan anak, sudah sepatutnya kita tetap bersyukur.

Salah satu kekurangan yang sering dialami oleh anak adalah Autisme, bisa jadi istilah ini sangat akrab di telinga anda. Akan tetapi mungkin tidak tahu apa yang dimaksud dengan Autisme? Dalam artikel ini akan membahas mengenai Tips Mengajari Anak Penderita Autisme Agar Bisa Mengendalikan Diri. Sebelum membahas tips mengajari anak penderita autism, simak terlebih dahulu mengenai definisi dan ciri anak penderita autisme.

Autisme didefinisikan sebagai kelainan perkembangan saraf seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas dan bisa dideteksi sejak anak berusia 6 bulan. Pengertian autisme dengan bahasa yang lebih mudah difahami adalah gangguan otak seorang anak sehingga kemampuan berkomunikasinya terbatas. Perlu pendeteksian sejak dini agar anak penderita autisme bisa menyesuaikan dirinya dengan orang-orang sekitar yang termasuk normal. Tidak menutup kemungkinan apabila dideteksi sejak dini, anak bisa bersaing dengan anak yang normal. Telah banyak contohnya anak penderita autisme bisa mengikuti Sekolah Umum hingga Sarjana dan bekerja sesuai standar perusahaan. Hal itu tidak lain berkat adanya pendeteksian sejak dini dan terapi yang terus menerus.

Gangguan perkembangan sistem saraf itu merupakan bagian dari gangguan spectrum autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD). Autisme sendiri bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan pada perkembangan otak sehingga tidak berfungsi dengan normal. Gejala awal anak penderita autisme bisa dikenali dengan melihat beberapa hal yang terjadi pada anak, seperti:

  • Lambat dalam belajar berbicara, tidak seperti anak yang normal.
  • Sering mengulang kata atau kalimat yang sama.
  • Ketika berbicara, selalu menghindari kontak mata atau sentuhan fisik.

Maka sebagai orang tua, anda dituntut untuk bisa berkomunikasi secara efektif. Seringkali anak penderita autisme disangka seperti sedang mengamuk atau tantrum, padahal anak sedang mengalami meltdown. Keterbatasan komunikasi itulah yang menyebabkan ia tidak bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya dengan baik kepada orang tua. Situasi ini sering membuat orang tua dan anak jadi rebut karena kurangnya pemahaman.

Saat anak penderita autisme mengalami situasi meltdown, ia merasa tak berdaya. Bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karena anak tidak tahan dengan suara bising, makanan yang asing di mulut yang tidak seperti biasanya, pakaian yang tidak nyaman saat dikenakan atau tidak tahan dengan cahaya yang menyilaukan matanya.

Hal-hal tersebut membuat dia menjadi resah, akibatnya diungkapkan dengan cara menangis, menjerit, memukul, menendang dan beberapa perilaku lainnya. Anda pun tak perlu khawatir saat menghadapi anak berperilaku seperti itu atau ketika anak berada pada posisi meltdown. Pada dasarnya anak penderita autisme yang mengalami meltdown bisa dicegah dan dikendalikan dengan baik.

Simaklah Tips Mengajari Anak Penderita Autisme Agar Bisa Mengendalikan Diri di bawah ini. Sehingga anak mampu menguasai dirinya dan aktvitas sehari-hari anda pun tidak terganggu.

1. Berikan arahan yang jelas

Ketika anda akan beraktivitas dengan anak atau akan melakukan suatu hal, jelaskan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan. Hal ini akan memperjelas tujuan anak, misalnya dengan berkata “Ayo kita makan terlebih dahullu, baru nanti jalan-jalan ke Taman Kota”. Dengan demikian, anak tahu apa yang harus dikerjakan dan kemana tujuannya. Biasanya anak penderita autisme mulai mengalami meltdown ketika dia mulai kebingungan atau kaget. Sehingga kejelasan arahan itu sangat penting, sebagai orang tua penting sekali untuk memperhatikan hal ini.

Akan berbeda sekali penerimaan anak atau kondisi yang terjadi jika anda mengeluarkan kata-kata yang agak kasar dan kurang jelas. Misalnya “Cepetan, jangan bengong dan bermalas-malasan terus”. Tentu kata-kata ini membuat anak malah kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

2. Menetapkan batas waktu aktivitas

Sebagai ibu rumah tangga, anda bisa saja dalam 1 hari memiliki banyak aktivitas yang harus dikerjakan. Mulai dari pekerjaan rumah menyapu, membersikan lantai, mencuci baju, piring dan membereskan peralatan yang ada. Supaya anak mengetahui kesibukan kita, sebaiknya jelaskan beberapa aktivitas tersebut. Setelah anak mengetahui aktivitasnya, barulah jelaskan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan aktivitas anda. Kemungkinan terjadinya gelisah atau meltdown karenan kelamaan beraktivitas bisa diminimalisir. Misalnya anda bisa menenangkan dengan memberi tahu, “Lima belas menit lagi selesai, nanti kita istirahat ya”.

Cara di atas dianggap lebih ampuh menenangkan anak daripada anda harus berulang kali menyuruh diam atau bersabar tanpa kejelasan yang pasti. Jangankan anak penderita autisme, anak yang normal saja kalau disuruh menunggu sering merasa kesal.

3. Ucapkan kalimat positif

Kalimat positif ini memang memberikan pengaruh yang baik untuk perkembangan otak dan sistem sarafnya, baik anak penderita autisme atau anak yang normal membutuhkan kalimat yang positif. Orang tua diwajibkan meredam emosinya agar tetap mengucapkan kalimat yang positif. Bagaimana contoh kalimat positif itu? Misalnya, “tenang ya, adek kan anak yang baik” atau “ayo bicara pelan-pelan biar ibu/ayah bisa mengerti”.

Memang Autisme akan membuat anak sulit berkonsentrasi, akibatnya hanya akan berfokus pada kata-kata negatifnya. Itulah sebabnya kita tidak boleh mengeluarkan kata-kata negative seperti “Udah, Jangan Menangis” anak akan berfokus pada kata menangis, maka perkembangan otaknya pun semakin down. Sebaiknya anda pun menggunakan intonasi dan nada yang penuh kelembutan.

4. Pujilah perilaku baik anak

Saat anda melihat anak berperilaku baik, maka pujilah anak dengan sewajarnya. Sambil memotivasi bahwa perilakunya itu baik untuk dipertahankan. Hal ini akan membuat anak membaca pola bahwa perilaku baik itu yang diharapkan darinya. Sanjungan atau pujian dibutuhkan agar sistem saraf otaknya mengalami perkembangan yang baik dan semakin terangsang untuk memberikan perilaku yang baik. Misalnya, seperti mengucapkan kata “Nah begitu, adek pintar kebanggan ibu” dan beberapa kalimat lainnya yang menyenangkan.

Jadi, bagi anda yang dianugerahi anak dengan sedikit gangguan, tak perlu mengeluh, bersedih atau justru marah. Nikmati semua prosesnya dan cermati beberapa tips di atas barangkali bisa dipraktekkan dengan baik sehingga anda tetap memiliki anak yang bisa dibanggakan. Jangan bosan untuk mengajari, membimbing dan memberikan terapi agar anak penderita autisme bisa tetap bersaing dengan anak yang normal. Semoga Bermanfaat. Tag:

Penulis: 

author

Posting terkait "Tips Mengajari Anak Penderita Autisme Agar Bisa Mengendalikan Diri"

Tinggalkan pesan "Tips Mengajari Anak Penderita Autisme Agar Bisa Mengendalikan Diri"